DENPASAR, KOMPAS.com - Maria Cecilia Lopez (32), hanya diam dan tertunduk di kursi persidangan menghadap Hakim Istiningsih Rahayu di Pengadilan Negeri Denpasar sore tadi.
Gara-gara 41 kapsul sabu dengan berat 324,87 gram, perempuan warga negara Filipina ini mendapat tuntutan 10 tahun penjara dan membayar perkara Rp 5.000 dari Jaksa Swastika.
Tapi, siapa sangka perempuan Asia ini tengah mengandung enam bulan. Ya, karena memang secara sekilas tidak terlalu terlihat perutnya membesar.
Berawal dari pengangkapannya 15 April lalu, petugas Bea dan Cukai Bandara Intenasional Ngurah Rai mendapati Lopez memiliki narkoba jenis methampethamine (sabu) sebanyak 324,87 gram dengan cara menelan alias kapsul-kapsul itu tersimpan di perutnya.
Lopez ditangkap sesaat setelah mendarat di Bandara Intenasional Ngurah Rai, Bali menumpang pesawat Thai Airways nomor penerbangan TG 431 dengan rute Bangkok-Denpasar. Dugaannya, sabu senilai total Rp 650 juta itu akan dikirimkan ke Jakarta karena petugas menemukan selembar tiket Denpasar-Jakarta.
Saat itu, petugas curiga dengan gerak-geriknya yang tidak tenang dan grogi. Selama pemeriksaan ia mengaku tengah hamil satu bulan dengan memperlihatkan surat keterangan dokter hasil USG kehamilannya. Namun, petugas tetap curiga Karen perutnya cenderung keras dan ini janggal bagi ibu hamil.
Petugas pun menggiringnya untuk pemeriksaan rontgen dan hasilnya benda mencurigakan itu pun terlihat. Selama dua hari proses, keluarlah 41 kapsul tersebut.
Pengakuan Lopez kepada petugas, ia diberi uang saku 400 dollar AS atau sekitar Rp 4 juta untuk menjalani tugasnya sebagai kurir dan dijanjikan imbalan 2.000 dollar AS atau sekitar Rp 20 juta jika berhasil lolos hingga ke Jakarta.
Ia pun sempat mengaku optimis bisa lolos di Ngurah Rai Bali ini karena sebelumnya pada Januari 2011, lolos membawa narkotika serupa dari Bangkok menuju negara Afrika. Hanya saja tak ditelannya, melainkan di simpan di dalam rongga-rongga kopernya.
Kamis pekan depan, menurut pengacaranya Haposan Sihombing, Lopez akan hadir dengan pembacaan pledoinya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang